
Kegiatan Grand Final Pemilihan Duta Kampus UPG 2026 (Foto: LPM Lugas)
LPM LUGAS - Grand Final Pemilihan Duta Kampus Universitas Primagraha (UPG) 2026 menyoroti kemampuan berpikir kritis, wawasan, serta gagasan advokasi peserta dalam menjawab persoalan mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Aula Universitas Primagraha ini menjadi ruang bagi finalis untuk menunjukkan kapasitas diri dan kesiapan berkontribusi bagi lingkungan kampus.
Ketua Pelaksana, Fiah Kurniawati, menjelaskan bahwa pemilihan tahun ini lebih mengutamakan kualitas peserta dibandingkan kuantitas. Penilaian mencakup aspek penampilan dan pengetahuan untuk menentukan figur yang mampu merepresentasikan institusi.
“Fokus tahun ini lebih kepada kualitas daripada kuantitas, dengan penekanan pada aspek visual dan pengetahuan peserta,” jelas Fiah.
Selain penampilan dan wawasan, gagasan program kerja menjadi salah satu aspek penting dalam proses seleksi. Salah satu finalis, Ahmad Fauzan, mempresentasikan program advokasi bernama Aksara yang menggabungkan pendidikan, budaya, dan modernitas. Program tersebut berfokus pada pengenalan serta pengembangan budaya Provinsi Banten melalui karya yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Program Aksara ini menggabungkan pendidikan, budaya, dan unsur modern, dengan fokus pada budaya Provinsi Banten. Kami juga ingin menciptakan karya yang relevan dengan budaya tersebut,” ungkap Ahmad.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarmahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Menurutnya, organisasi kampus dapat menjadi ruang untuk menyatukan gagasan dan menghasilkan kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa.
Dari sisi penilaian, juri Priatna Wijaya menegaskan bahwa finalis harus mampu memahami persoalan nyata di lingkungan kampus dan menawarkan solusi konkret, realistis, serta berkelanjutan. Sejumlah isu yang dapat diangkat melalui program advokasi antara lain edukasi kesehatan mental, pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS), serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung kebutuhan mahasiswa.
“Finalis harus mampu memahami permasalahan nyata di kampus, bukan hanya menyampaikan gagasan. Solusi yang ditawarkan harus konkret, realistis, dan berkelanjutan,” jelas Priatna.
Ia juga menempatkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) sebagai salah satu aspek dengan bobot penilaian tertinggi. Kemampuan tersebut dinilai penting agar peserta dapat menganalisis persoalan, menyusun solusi logis, dan menyampaikan gagasan secara efektif melalui kemampuan berbicara di depan umum (public speaking).
“Aspek dengan bobot paling tinggi adalah critical thinking, karena finalis harus mampu menganalisis masalah, memberikan solusi yang logis, dan menunjukkan sikap kritis,” tegasnya.
Menurut Priatna, tantangan bagi seorang Duta Kampus tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan gagasan, tetapi juga terletak pada upaya merealisasikannya menjadi program kerja yang terukur dan berkelanjutan. Duta Kampus diharapkan mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan mahasiswa.
Grand Final Duta Kampus UPG 2026 diikuti oleh enam peserta. Dalam pemilihan tersebut, Ahmad Fauzan terpilih sebagai Duta Kampus putra, sedangkan Zahrotul Balqis terpilih sebagai Duta Kampus putri.
Melalui kegiatan ini, Duta Kampus diharapkan tidak hanya menjadi representasi institusi, tetapi juga mampu mengembangkan potensi mahasiswa, mengangkat budaya lokal, dan mendorong perubahan positif melalui gagasan serta program yang menjawab kebutuhan lingkungan perguruan tinggi.
Author: Jeri
Editor: Redaksi