Notification

×

Postingan Populer

Berita terbaru

Kampus UPG Tolak Semua Alternatif Nobar Film Pesta Babi

Selasa, Mei 19, 2026 | Mei 19, 2026 WIB | 0 Views
Poster Nobar Film Pesta Babi Ditolak Kampus (Sumber: LPM LUGAS)


LPM LUGAS — Di tengah maraknya pembubaran dan penolakan pemutaran film dokumenter Pesta Babi di berbagai daerah di Indonesia, LPM LUGAS berencana menggelar pemutaran film dan diskusi serupa di lingkungan kampus. Namun, kegiatan tersebut akhirnya tidak diizinkan berlangsung oleh pihak kampus meski sebelumnya telah mendapat persetujuan secara lisan.



Awalnya, LPM LUGAS berencana mengadakan nonton bareng (nobar) dan diskusi film di luar kampus. Namun keterbatasan biaya untuk menyewa tempat dan perlengkapan membuat mereka mencoba mengajukan penggunaan fasilitas kampus sebagai lokasi kegiatan.



“Kami awalnya memang ingin mengadakan nobar di luar kampus, tetapi karena keterbatasan biaya untuk sewa tempat dan alat, akhirnya kami berkoordinasi secara lisan dengan pihak kemahasiswaan untuk menggunakan aula kampus,” ujar ketua pelaksana.



Menurutnya, pihak kemahasiswaan saat itu memberikan izin secara lisan dan meminta agar panitia segera mengajukan surat pemberitahuan resmi. Selain itu, mereka juga diminta memastikan ketersediaan aula kepada bagian sarana dan prasarana (sarpas).



Setelah melakukan pengajuan penggunaan aula, permohonan tersebut disebut telah disetujui oleh pihak sarpas. Aula kampus dinyatakan kosong dan dapat digunakan pada hari pelaksanaan kegiatan.



Namun, dua hari setelah pengajuan disetujui, situasi berubah. Saat hendak menyerahkan surat pemberitahuan resmi kepada pihak kampus, panitia justru menerima pesan WhatsApp dari pihak sarpas yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut tidak diizinkan berlangsung di kampus.



“Kami bingung karena tidak mendapatkan alasan yang jelas,” katanya.



Tak lama kemudian, pihak kemahasiswaan juga menghubungi panitia dan menyebut aula akan digunakan untuk kegiatan lain, meski sebelumnya lokasi tersebut telah dibooking dan dinyatakan kosong.



Panitia kemudian mencoba mengusulkan alternatif lokasi lain di lingkungan kampus, seperti ruang kelas, lapangan, hingga area parkir. Namun seluruh usulan tersebut tetap ditolak.



“Pihak kemahasiswaan akhirnya mengatakan bahwa kegiatan kami memang tidak diizinkan diselenggarakan di kampus atas interupsi dari pimpinan kampus. Ketika kami meminta alasan yang jelas, mereka hanya mengatakan itu arahan pimpinan dan menyarankan kegiatan dilakukan di luar kampus,” lanjutnya.



Pihak kemahasiswaan juga disebut menyampaikan bahwa mereka tidak berniat membatasi ruang ekspresi mahasiswa, tetapi tetap harus menjalankan instruksi pimpinan kampus.



“Kami juga bingung karena tidak dijelaskan alasan konkretnya, yang disampaikan hanya silakan kegiatan dilaksanakan, asal jangan di lingkungan kampus, kami tidak berniat membatasi ekspresi teman-teman, tapi kami juga punya pimpinan yang harus kami koordinasikan.” Ujar Hayumi



Gelombang penolakan terhadap pemutaran film dokumenter Pesta Babi sebelumnya juga terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia. Di Ternate dan Maluku Utara, kegiatan nonton bareng dan diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama sejumlah organisasi mahasiswa dibubarkan aparat dengan alasan belum mengantongi izin resmi.



Pembubaran serupa juga terjadi di sejumlah kampus di Nusa Tenggara Barat, seperti Universitas Mataram (Unram), UIN Mataram, hingga Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma). Kegiatan dihentikan dengan alasan administratif dan kekhawatiran terhadap potensi konflik keamanan.



Situasi tersebut memicu kritik dari berbagai kelompok masyarakat sipil yang menilai tindakan pembatalan dan pembubaran pemutaran film sebagai bentuk pembatasan ruang berekspresi dan diskusi di lingkungan akademik.



Red***

Pers Mahasiswa

Pers Mahasiswa
Sarana Informasi Kampus Terpercaya
×
Berita Terbaru Update